PHK Build a Rocket Boy dilaporkan kembali mengguncang studio pengembang MindsEye, Build a Rocket Boy. Kabar ini, yang diberitakan oleh Kotaku, menandai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) ketiga yang melanda studio ini dalam satu tahun terakhir. Situasi ini menambah daftar tantangan yang dihadapi oleh MindsEye studio sejak peluncuran game tersebut.
Gelombang PHK Berulang di Build a Rocket Boy
Kabar mengenai redundansi ini muncul di tengah periode sulit bagi Build a Rocket Boy. Peluncuran MindsEye pada Juni 2025 segera diikuti oleh putaran PHK yang signifikan di studio tersebut pada bulan berikutnya. Hal ini menciptakan ketidakpastian di kalangan staf yang sudah bekerja keras.
Sebagai respons terhadap PHK awal tersebut, staf Build a Rocket Boy bersatu dan mengirimkan surat terbuka yang keras kepada manajemen perusahaan. Surat tersebut menyerukan perubahan dan mengakui bahwa MindsEye sayangnya mengalami “salah satu peluncuran video game terburuk dekade ini”. Pernyataan ini menunjukkan tingkat kekecewaan yang mendalam di internal studio terhadap kondisi peluncuran game.
Tidak berhenti di situ, PHK lebih lanjut kembali terjadi pada Maret tahun ini. Ini menegaskan pola pemutusan hubungan kerja yang berulang, menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas operasional MindsEye studio dan masa depan karyawannya. Ketidakpastian terus membayangi, bahkan setelah insiden PHK sebelumnya.
Dampak dan Jumlah Karyawan Terdampak
Meskipun Build a Rocket Boy belum memberikan komentar publik mengenai gelombang PHK terbaru ini, sumber-sumber yang dikutip oleh Kotaku mengindikasikan bahwa sekitar 170 staf telah terdampak. Angka ini sangat signifikan dan mengubah lanskap karyawan di studio secara drastis.
Menurut laporan, setelah PHK terbaru ini, studio Build a Rocket Boy kini hanya memiliki sekitar 80 karyawan yang tersisa. Penurunan jumlah staf yang begitu tajam dalam kurun waktu singkat menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh manajemen dalam menjaga operasional dan pengembangan MindsEye.
Update ‘Blacklisted’ dan Upaya Kebangkitan MindsEye
Gelombang PHK yang baru ditemukan ini terjadi hanya satu minggu setelah rilis resmi MindsEye Blacklisted update. Pembaruan ini merupakan misi baru yang disampaikan melalui platform konten buatan pengguna (UGC) game yang disebut ‘Arcadia’. Perilisan update ini awalnya diharapkan membawa angin segar bagi MindsEye.
Misi ‘Blacklisted’ dimaksudkan untuk menandai dimulainya upaya kebangkitan bagi game tersebut. Selain itu, pembaruan ini seharusnya menyertakan bukti yang mendukung klaim manajemen studio bahwa Build a Rocket Boy dan MindsEye telah disabotase sebelum peluncuran bencana mereka. Harapan akan bukti ini menambah bobot pada arti penting dari MindsEye Blacklisted update.
Namun, di tengah situasi PHK ini, kondisi MindsEye di pasar tetap menjadi perhatian. Meskipun angka pemain konsol tidak tersedia, pada saat penulisan artikel ini, hanya enam orang yang aktif bermain MindsEye di Steam. Angka ini mencerminkan penerimaan game yang masih sangat rendah di platform PC, bahkan setelah rilis MindsEye Blacklisted update. Ini menunjukkan bahwa upaya kebangkitan mungkin memerlukan waktu dan strategi yang lebih komprehensif.
Situasi yang dialami oleh MindsEye studio dan serangkaian PHK Build a Rocket Boy ini menyoroti dinamika kompleks dan tantangan berat dalam industri game modern. Pengembangan game besar seringkali penuh dengan rintangan, mulai dari manajemen proyek hingga penerimaan pasar yang fluktuatif. Berbagai proyek di industri ini, tak terkecuali, menghadapi tantangan serupa yang membutuhkan adaptasi dan solusi inovatif. Misalnya, kompleksitas dalam menciptakan dunia virtual yang imersif seperti yang terlihat dalam Minecraft Castle Build: Kreasi Megah Pemain di Dunia Minecraft, atau antisipasi terhadap pembaruan teknologi grafis yang dibahas dalam Tanggapan Producer Grace DLSS 5 Resident Evil Requiem Terbaru, semuanya menunjukkan betapa dinamisnya ekosistem pengembangan game.
Video Terkait
MindsEye: Blacklisted – Official Announcement Trailer
MindsEye Video Review
